Sunday, May 5, 2019

10 Prinsip Prinsip Akuntansi Yang Sering Terlupakan

Prinsip sayantansi sering kali dilupakan, bahkan sebagian besar mitra dibangku perkuliahan galau menjawab apa saja prinsip prinsip sayantansi itu.

Mungkin sudah terlalu dalam memahami sayantansi sehingga terlupa hal fundamental ini. he he he

Prinsip sayantansi merupakan konsep fundamental yg dipergunakan sbg teladan didalam seluruh kegiatan sayantansi.

Didalam perkembangannya, sayantansi mempunyai patokan yg menjadi dasar teladan dalam proses dan segala aktivitasnya.

Seluruh kegiatan harus sejalan dengan kaidah kaidah sayantansi yg sanggup dinilai secara objektif supaya tidak menjadikan perbedaan yg pada alhasil memunculkan permasalahan.

Laporan keuangan harus sanggup dibaca dan dimengerti oleh semua pihak, untuk itu maka perlu penyeragaman terhadap mekanisme sayantansi.

Maka diciptakanlah Prinsip Akuntansi yg Berlsaya Umum atau yg juga familiar dengan PABU.

Prinsip sayantansi disetiap negara tentulah berbeda, menyesuaikan dengan keperluan dan alasan alasan lain yg berbeda ditiap negara.

Di Indonesia, IAI ialah tubuh yg mengatur perihal peraturan sayantansi yg berlsaya di Indonesia, termasuk prinsip prinsip sayantansi.

Berikut ini beberapa prinsip dasar sayantansi yg sanggup menjadi aliran dalam segala kegiatan yg berafiliasi dengan kegiatan sayantasi

 bahkan sebagian besar mitra dibangku perkuliahan galau menjawab apa saja prinsip prinsi 10 Prinsip Prinsip Akuntansi yg Sering Terlupakan
Prinsip Prinsip Akuntansi

Prinsip Prinsip Akuntansi yg Berlsaya Umum

1. Prinsip Entitas Ekonomi | Economic Entity Principle

Prinsip entitas ekonomi atau yg sering juga disebut prinsip kesatuan entitas ialah konsep kesatuan perjuangan dimana sayantansi menganggap bahwa perusahaan ialah sebuah kesatuan ekonomi yg bangkit sendiri.

Terpisah dengan pribadi pemilik ataupun entitas ekonomi yg lain.

Akuntansi memisahkan dengan terang kekayaan atau aset perusahaan dilarang dicampur dengan kekayaan pribadi pemilik perusahaan.

Kaprikornus seluruh pencatatan atas seluruh transaksi yg terjadi tidak diperbolehkan bercampur antara pencatatan perjuangan dengan transaksi pemilik.

Hal ini juga berlsaya untuk kewajiban (utang), hutang pribadi pemilik perusahaan harus dipisahkan dengan terang dari utang perusahaan sehingga ada pemisahan tanggung jawab terhadap keuangan yg jelas.

Contoh ada kendaraan beroda empat dinas perusahaan digunakan untuk kepentingan pemilik, menggunakan sopir perusahaan bukan sopir pribadi pemilik, menggunakan uang "bensin" perusahaan, menggunakan biaya maintenance dari uang perusahaan. Yang digunakan untuk keperluan pribadi pemilik, yg tidak ada sangkut pautnya dengan acara perusahaan.

Hal inilah yg akan menjadi persoalan dalam sayantansi.

Akuntansi dengan terang melarang hal ini. Pencatatannya akan semakin rumit.

Dan terlebih efeknya bagi perusahaan tentu tidak akan baik.

Jadi, kalau kendaraan beroda empat dinas perusahaan, harus digunakan untuk keperluan perusahaan. Juga sebaliknya, kendaraan beroda empat pribadi pemilik, digunakan untuk keperluan pribadi pemilik, bukan untuk keperluan perusahaan.

Begitu juga dengan aset aset perusahaan yg lain, hutang perusahaan, dan juga semua transaksi yg ada.

2. Prinsip Periode Akuntansi

Prinsip periode sayantansi atau yg juga disebut prinsip kurun waktu, evaluasi dan pelaporan keuangan perusahaan dibatasi oleh periode waktu tertentu.

Tujuannya supaya informasi keuangan sanggup dihasilkan tidak harus menunggu perjuangan yg tengah dijalankan tutup.

Umumnya, perusahaan menjalankan usahanya menurut periode sayantansi menyerupai dimulai pada tanggal 1 Januari hingga tanggal 31 Desember.

Dengan begitu, laporan keuangan antara satu periode dengan periode yg lain sanggup dibandingkan dengan jelas. Baik periode sebelumnya maupun periode selanjutnya.

Ini sangat berkhasiat untuk analisis trend.

3. Prinsip Biaya Historis

Prinsip biaya historis mengharuskan setiap barang atau jasa yg diperoleh dicatat menurut semua biaya yg dikeluarkan dalam mendapatkannya.

Apabila terjadi proses tawar menawar, yg dinilai ialah HARGA JADI sesuai kesepakatan.

Berbagai cara sanggup digunakan dalam menilai sebuah aset yg dibeli mencakup nilai buku, nilai pasar, nilai ganti ataupun nilai tunai.

Dalam standar GAAP, prinsip ini harus menggunakan harga perolehan atau yg juga disebut juga harga sayaisisi dalam pencatatan perolehan aset (aktiva), utang, modal (equitas) dan biaya.

Yang dimaksud harga perolehan ialah harga pertukaran yg telah disepakatai oleh kedua belah pihak yg terlibat dalam transaksi.

Contohnya, apabila perusahaan membeli tanah yg harga pasaran dilokasi tersebut sebesar 100 juta, dan perusahaan membelinya hanya dengan 80 juta.

Maka yg dicatat dan disayai ialah harga tanah yg 80 juta, harga janji dengan penjualan. Bukan 100 juta.

       Untuk lebih terang mengenai harga perolehan, sanggup disimak di: Perolehan Aktiva Tetap

4. Prinsip Satuan Moneter 

Pada prinsip satuan moneter, pencatatan transaksi hanya yg dinyatakan didalam bentuk mata uang tanpa melibatkan hal hal non-kualitatif.

Non kualitatif ini contohnya mutu, prestasi, kestrategisan perjuangan dan lain lainnya yg tidak sanggup dilaporkan atau tidak sanggup dinilai dalam bentuk uang.

Hal hal menyerupai itu sangat susah untuk dilaporakan pada laporan keuangan walaupun informasi ini sanggup jadi sangat relevan dan sangat besar lengan berkuasa terhadap pengambilan keputusan.

Semua pencatatan hanya terbatas pada segala yg sanggup diukur dan dinilai dengan satuan uang.

Diukur dan dinilai dengan satuan uang, ingat satuan uang !

Jika perusahaan mempunyai 100 unit komputer seharga 350 juta.

Yang dicatat ialah : Komputer = Rp 350.000.000
Bukan dicatat menyerupai ini : Komputer = 100 unit.

Atau pasir 20 kubik, beras 12 ton, tanah 21 hektar.
Yang dicatat ialah NILAI dari pasir 20 kubik, beras 12 ton, tanah 21 hektar. Dengan satuan moneter (Rupiah). Bukan satuan yg lain.

5. Prinsip Kesinambungan Usaha | Going Concern Principle

Prinsip ini menganggap bahwa sebuah entitas bisnis berjalan secara terus menerus berkesinambungan tanpa ada pembubaran atau penghentian kecuali terdapat insiden tertentu diluar kendali yg sanggup menyggahnya.

Tidak ada perkiraan bahwa perusahaan akan ditutup pada periode mendatang. Perusahaan diasumsikan akan beroperasi selamanya. Ya, selamanya.

Ingat, hanya asumsi.

Prinsip ini alhasil memungkinkan perusahaan untuk menunda pengsayaan biaya. Contohnya penyusutan.

Aktiva perusahaan, khususnya aktiva tetap yg dibeli. Pengsayaan beban penyusutannya disayai pada periode periode berikutnya selama umur hemat aktiva tersebut. Bukan hanya ketika periode aktiva tersebut diperoleh.

Karena didasari perkiraan bahwa perusahaan tidak akan tutup. Dan akan terus beroperasi ditahun tahun berikutnya. Kaprikornus pengsayaan biayanya juga sanggup disayai pada tahun tahun berikutnya.

6. Prinsip Pengungkapan Penuh | Full Disclosure Principle

Laporan keuangan harus menyajikan informasi yg informatif serta dimaklumkan sepenuhnya.

Prinsip pengungkapan penuh merupakan prinsip dimana sayantansi menyajikan informasi yg sangat lengkap dalam laporan keuangan.

Namun, dikarenakan informasi - informasi yg disajikan ialah berupa ringkasan atas seluruh transaksi yg terjadi dalam satu periode dan juga terdapat pada saldo - saldo dari rekening tertentu, maka mustahil seluruhnya sanggup tercover semua didalam laporan keuangan.

Dalam satu tahun, mungkin ada ribuan transaksi yg dilsayakan oleh perusahaan, mulai dari transaksi yg besar hingga transaksi yg bernilai kecil.

Tidak mungkin kan semua transaksi tersebut disajikan dalam laporan keuangan. Bisa sanggup laporan keuanganya setebal buku skripsi.

Siapa yg mau membaca ?

Maka untuk itu, pada laporan keuangan akan diberi keterangan tambahan. informasi yg diharapkan yg tidak ada didalam laporan keuangan.

Informasi tambahan. ini sanggup berupa catatan kaki atau lampiran. Isinya biasanya menyerupai ini:
  • Pada laporan keuangan, ditulis dalam kurung "()" dibawah post yg bersangkutan atau menggunakan rekening tertentu.
  • Prinsip sayantansi yg digunakan.
  • Perubahan. - perubahan. yg terjadi, contohnya ada perubahan. didalam penerapan prinsip sayantansi, taksiran, koreksi kesalahan, kesatuan usaha. Catatan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana perlsayaan terhadap perubahan. yg terjadi tersebut.
  • Kemungkinan adanya keuntungan atau rugi yg bersyarat.
  • Kontrak - kontrak pembelian atau kontrak penting lainnya.
  • Keterangan tambahan. yg disusun untuk memperlihatkan perhitungan yg lebih rinci dan detail terhadap suatu jumlah tertentu yg dirasa penting dan material.
  • Informasi mengenai modal, menyerupai jumlah saham dan yg lainnya

7. Prinsip Pengsayaan Pendapatan | Revenue Recognition Principle

Pendapatan ialah kenaikan harta yg diakibatkan oleh kegiatan perjuangan menyerupai penjualan, penerimaan bagi hasil, persewaan dan yg lainnya.

Dasar yg digunakan dalam mengukur besar kecilnya pendapatan ialah jumlah kas ataupun setara kas (ekuivalennya) yg diperoleh dari transaksi penjualan dengan pihak yg lain.

Pendapatan disayai ketika terjadi penjualan barang ataupun jasa. Ada kepastian perihal jumlah besar kecilnya yg sanggup diukur secara handal dengan harta yg diperoleh.

Namun ketentuan ini tidak selalu sanggup diterapkan sehingga alhasil muncul ketentuan lain untuk sanggup mengsayai pendapatan.

Ketentuan lain ini contohnya ialah pengsayaan pendapatan ketika produksi telah selesai, selama barang diproduksi, dan ketika kas atau yg setara kas telah diterima.

Jadi, perusahaan tidak harus menunggu pendapatan tersebut hingga diterima untuk mengsayai dan mencatat pendapatan pada buku besar mereka.

Contohnya.

Pada bulan Januari, PT A menjual barang dagangnya kepada PT B secara kredit dengan DP 20 persen. Barang sudah dikirim. Pelunasan sisanya pada bulan Maret.

Maka PT akan mengsayai pendapatannya pada bulan Januari.

Bukan pada bulan Maret. Meskipun uang kas pelunasannya dilsayakan pada bulan Maret.

Pada bulan Januari, PT A akan mencatat:

Debit    : Kas (sebesar DP 20 %)
Debit    : Piutang (80%)
Kredit   : Penjualan (sebesar harga jual 100%)

8. Prinsip Mempertemukan | Matching Principle

Prinsip matching dalam sayantansi maksudnya ialah biaya yg dipertemukan / di"matching"kan dengan pendapatan yg diterima, ini dimaksudkan untuk menetukan besar kecilnya penghasilan higienis ditiap periode.

     Contoh dan klarifikasi lebih lanjut, silahkan baca : Pendapatan Diterima Dimuka

Dalam prinsip ini sangat bergantung pada penentuan pendapatan, kalau pengsayaan pendapatan ditunda misalnya, maka pembebanan biaya juga tidak sanggup dilsayakan.

Ada beberapa kesulitan pada prinsip ini, contohnya biaya yg dikeluarkan tidak berafiliasi eksklusif dengan pendapatan yg diterima.

Contoh: Biaya manajemen yg tidak sanggup dihubungakan dengan pendapatan perusahaan.

Namun kasus menyerupai ini masih sanggup diatasi dengan cara membebankan biaya yg dikeluarkan tersebut kedalam periode terjadinya pengeluaran. Tidak disandingkan dengan pendapatan.

Biaya yg tidak sanggup disandingkan dengan pendapatan tersebut sering disebut dengan Period Cost alasannya ialah tidak mempunyai keterkaitan yg eksklusif dan terang dengan pendapatan yg diterima.

Contoh biaya yg sulit dihubungkan dengan pendapatan yg lain ialah biaya yg telah dikeluarkan mempunyai relasi yg terang dengan produksi tetapi keuntungannya tidak habis dalam satu periode.

Manfaatnya akan terus dirasakan hingga beberapa periode.

Biaya menyerupai ini nanti pembebanannya akan ditunda.

Ditunda hingga kapan ?

Pembebannya akan dialokasikan (dibagi) kedalam periode berikutnya dimana biaya tersebut dimanfaatkan.

Contohnya ialah biaya penyusutan.

Permasalahan yg timbul ialah bagaimana pengalokasian biaya setiap periodenya?

Contoh tahun 2014 perusahaan melsayakan pembelian gudang ataupun mesin.

Tentu gudang atau mesin yg dibeli tersebut juga akan digunakan ditahun tahun berikutnya.

Tidak hanya digunakan pada tahun 2014 saja.

Sebagai imbas dari prinsip ini ialah dipergunakan Accrual Basis didalam pembebanan biaya, yg alhasil memunculkan jurnal pembiasaan pada setiap final periode untuk mempertemukan pendapatan dan biaya.

9. Prinsip Konsistensi | Consistency Principle

Prinsip konsistensi ialah prinsip dimana metode sayantansi yg digunakan dalam pelaporan keuangan tetap digunakan secara konsisten, tidak berubah-ubah metode dan prosedur.

Hal ini berkhasiat supaya laporan keuangan yg dihasilkan sanggup dibandingkan dengan laporan keuangan pada periode periode sebelumnya sehingga sanggup memperlihatkan manfaat lebih bagi penggunanya.

Metode dan mekanisme yg digunakan harus diterapkan secara konsisten dari periode ke periode, sehingga sanggup dengan cepat diketahui apabila ada perbedaan yg terjadi dengan metode yg sama.

Eits, prinsip ini juga tidak melarang sebuah pergantian metode sayantansi.

Perusahaan boleh MENGGANTI metode yg dipakainya.

Namun perusahaan harus menjelaskan dalam laporan keuangan mengapa terdapat pergantian metode.

Dan apakah alasan pergantian metode tersebut sanggup diterima atau tidak.

         Baca juga : 9 Langkah gampang dalam siklus sayantansi

10. Prinsip Materialitas

Penerapan sayantansi didasarkan pada teori untuk menyeragamkan seluruh aturan.

Namun kenyataannya tidak semua penerapan sayantansi itu mentaati teori teori yg ada.

Maka dari itu tidak jarang terjadi adanya pengungkapan informasi yg sifatnya material ataupun immaterial.

Sebuah informasi sanggup dianggap material apabila informasi tersebut punya imbas yg signifikan terhadap proses pengambilan keputusan. Memiliki dampak yg besar terhadap penggunannya.

Konsep ini tidak mengecewakan susah untuk dipahami. Materialitas kurang mempunyai definisi operasional. Tidak ada patokan niscaya untuk sanggup mengukur materiallitas.

Materilitas tergantung pada faktor menyerupai besaran/jumlah hal terkait, sifat hal yg terkait atau adonan keduanya.

Transaksi senilai 10 juta bagi toko kelontong pinggir jalan mungkin ialah jumlah yg sangat material. Namun, bagi perusahaan tambang multinasional mungkin hanyalah jumlah "recehan".

Sama sama 10 jutanya, tapi berbeda tingkat kematerialitasnya.

Prinsip prinsip sayantansi tersebut diatas semestinya diterapkan dengan kesuaian dan ranah sayantansi yg berorientasi kepada pengguna laporan keuangan.