Friday, July 5, 2019

5 Teori Kebijakan Dividen

Teori Kebijakan Dividen - Dividend Policy atau kebijakan dividen ialah keputusan perusahaan yg bekerjasama dengan pembayaran dividen oleh perusahaan. Apakah keuntungan yg dihasilkan dibagikan kepada pemegang saham atau ditahan untuk kebutuhan pengembangan perusahaan diperiode mendatang.

Setidaknya ada 5 teori kebijakan dividen (teori wacana preferensi pemegang saham mengenai dividen) sbg berikut :

 ialah keputusan perusahaan yg bekerjasama dengan pembayaran dividen oleh perusahaan 5 TEORI KEBIJAKAN DIVIDEN
5 teori kebijakan dividen

1. Teori Dividen Tidak Relevan [Irrelevancy Theory]

Teori dividen tidak relevan ini ditemukan oleh Modigliani and Miller [MM].

Menurutnya, nilai sebuah perusahaan ditentukan oleh keuntungan higienis sebelum pajak (Earning Before Interest and Tax) dan kelas resiko perusahaan.

Nilai perusahaan TIDAK DITENTUKAN oleh persentase keuntungan yg dibagikan kepada pemilik saham dalam bentuk dividen.

Makara teori dividen tidak relevan menyatakan bahwa pembayaran dividen TIDAK BERPENGARUH terhadap harga saham atau nilai perusahaan. Tidak relevan.

Nilai perusahaan hanya bisa dipengaruhi oleh bagaimana cara perusahaan dalam mengelola aset yg dimiliki semoga menghasilkan keuntungan yg diinginkan dan mengelola resiko-resiko bisnis yg ada.

          Baca juga : 8 Faktor yg Mempengaruhi Kebijakan Dividen

# Asumsi Teori Tidak Relevan

Modigliani dan Miller menyusun teori ini menurut beberapa perkiraan berikut :
  1. Pasar modal sempurna. semua investor bersifat rasional. 
  2. Tidak ada investor besar yg bisa membuat. harga saham bisa terpengaruh
  3. Tidak ada biaya emisi dalam penerbitan saham gres perusahaan
  4. Tidak ada pajak penghasilan perusahaan atau pajak perseorangan
  5. Kebijakan investasi sebuah perusahaan tidak akan berubah
  6. Pemegang saham tidak peduli apakah kemakmuran meningkat lantaran capital gain atau lantaran dividen.
  7. Manajer perusahaan dan pemegang saham mempunyai infomasi yg sama mengenai investasi perusahaan dimasa yg akan datang, sehingga tidak ada biaya untuk mendapatkan informasi.
Teori tidak relevan dari MM ini banyak dikritik oleh banyak ahli.

Para jago menentang lantaran banyak asumsi-asumsi yg digunakan dalam teori dividen tidak relevan ini tidak sesuai dengan kenyataan yg ada. Seperti :
  1. Tidak ada pasar modal yg sempurna. 
  2. Banyak investor besar yg bisa menjual atau membeli saham dalam skala yg masif yg bisa mensugesti harga saham perusahaan
  3. Terdapat sejumlah biaya emisi ibarat biaya penerbitan saham baru, biaya broker atau biaya transfer yg bekerjasama dengan sekuritas perusahaan.
  4. Pajak penghasilan atau pajak perseorangan hampir selalu ada disetiap negara
  5. Kebijakan investasi perusahaan bisa berubah ditengah perjalanan menyesuaikan dengan kondisi yg ada
  6. Pemegang saham tentu sangat concern dan peduli dengan darimana pendapatan yg akan ia peroleh, dari dividen atau capital gain. Ini juga bekerjasama dengan taktik dari masing-masing investor. Tidak semua investor suka dengan capital gain, ada investor yg lebih suka pembagian dividen yg tinggi. Begitu juga sebaliknya.
  7. Manajer dan investor belum tentu mempunyai informasi yg sama wacana perusahaan. Manajer umumnya mengetahui informasi lebih rinci dan detail sehingga timbul asimetri informasi

2. Teori Dividen yg Relevan [The Bird in the Hand]

Teori dividen yg relevan atau yg lebih dikenal dengan istilah the bird in the hand ditemukan oleh Gordon and Lintner.

Pernah mendengar istilah the bird in the hand atau burung ditangan sebelumnya ?
         *ps: yg perjaka tidak boleh berfikir negatif ya :)
Satu burung ditangan lebih berharga daripada seribu burung yg ada diudara. Itulah yg ingin disampaikan oleh teori ini.

Burung ditangan yg dimaksud ialah dividen, dan seribu burung yg ada diudara ialah capital gain.

Ya, teori ini lebih banyak berbicara mengenai return investasi saham yg bisa berupa dividen dan capital gain.

Yang dimaksud capital gain ialah keuntungan yg diperoleh dari selisih harga jual saham yg lebih tinggi daripada harga beli saham.

Teori ini menyatakan bahwa dividen lebih mempunyai kepastian daripada "seribu" capital gain diudara.

Dividen lebih bisa diprediksi.

Sedangkan capital gain dinilai cenderung didapat dari hasil spekulasi lantaran harga saham tiap ketika bisa berubah.

Pada teori ini investor lebih menyukai mendapatkan dividen.

Karena dinilai lebih mempunyai kepastian dari capital gain.

Dividen mempunyai resiko yg lebih kecil.

Manajemen sanggup mengontrol dividen namun tidak bisa mengontrol/mendikte harga saham dipasar.

Investor tidak menyukai capital gain lantaran ketidakpastian yg lebih tinggi.

Dengan mengharapkan capital gain, nilai saham naik turun. Berfluktuatif.

Bisa dengan gampang menghasilkan.

Juga bisa dengan gampang mendapatkan kerugian.

Investor belum tentu bisa menangkap seribu atau bahkan satu burungpun diudara.

Teori ini dianut dan disukai oleh tipe long tern investor.

Loyal dan cenderung setia kepada satu perusahaan dengan prinsip pembayaran dividen ialah akad perusahaan terhadap pemegang saham yg setia. Investor menyukainya lantaran bisa meningkatkan kemakmurannya.

Mungkin akan muncul pertanyaan...

Bagaimana jikalau satu burung yg ada ditangan yg dibutuhkan dan diyakini sangat berharga tersebut ternyata mengecewakan ?

Bagaimana jikalau saham yg dipilih ternyata tidak memperlihatkan dividen ibarat yg dibutuhkan ? Bagaimana jikalau ternyata perusahaan mengalami kerugian ?

Apabila perusahaan mengalami kerugian, maka bukan hanya investor yg mengharapkan dividen yg kecewa.

Investor yg mengharapkan capital gain pun juga mengalami kerugian yg sama.

Harga jual kembali saham akan jatuh, bukan capital gain yg didapat, melain kan capital loss (kerugian harga jual saham lebih rendah dari harga beli saham).

Kelebihan teori bird in the hand ialah apabila perusahaan membayarkan dividen lebih tinggi, maka nilai perusahaan akan semakin tinggi. Harga saham semakin naik.

Kelemahannya, apabila dividen yg dibayarkan tinggi, investor akan dikenakan pajak yg tinggi juga.

Ya memang semakin besar pendapatan maka semakin tinggi juga pajak yg harus dibayarkan. Hal yg normal aslinya.

# Penentang Teori Bird in the Hand

Modigliani and Miller [MM] pelopor teori dividen tidak relevan menjadi penentang teori ini.

Hal ini terang lantaran dalam teori konsep MM, teori bird in the hand ialah kebalikan dari teori dividen tidak relevan yg mereka ciptakan. 

Dalam teorinya MM menyatakan dividen tidak mempunyai efek terhadap nilai perusahaan.

Sangat bertentangan dengan teori bird in the hand yg menganggap dividen sangat besar lengan berkuasa terhadap nilai perusahaan.

Bahkan MM menyebut teori ini dengan istilah "The Bird in the Hand Fallacy". 

MM mengklaim telah melsayakan studi bahwa pemegang saham tidak peduli apakah return yg didapatkan berupa dividen ketika ini atau mendapatkan capital gain dimasa depan.

MM menambahkan pada alhasil pemegang saham akan kembali memakai dividen yg diterima dengan menginvestasikan kembali pada perusahaan yg sama atau paling tidak mempunyai risiko yg hampir sama.

Kenaikan dividen tidak bisa mereduksi resiko perusahaan. Karena akan ada kemungkinan adanya pendanaan perusahaan yg nanti dipenuhi dengan mengeluarkan saham baru.

Maka pembayaran dividen hanya akan memindahkan atau membagi risiko dari pemegang saham yg usang kepada pemegang saham yg baru.

Pada beberapa kasus, tingkat risiko arus kas perusahaan hanya bisa ditentukan oleh bagaimana cara perusahaan beroperasi.

Bukan pada kebijakan pembayaran dividen.

3. Teori Perbedaan Pajak [Tax Differential Theory]

Teori perbedaan pajak ditemukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy.

Umumnya, tarif pajak terhadap return investasi yg berupa capital gain atau dividen ialah berbeda.

Tarif pajak capital gain biasanya lebih rendah dari tarif pajak dividen.

Adanya perbedaan tarif pajak tersebut yg membuat. teori ini ada.

Teori ini menyatakan investor lebih suka mendapatkan capital gain daripada dividen lantaran capital gain mempunyai tarif pajak yg lebih rendah daripada tarif pajak dividen.

Atau kalaupun perusahaan tetapkan untuk membagikan dividen, investor lebih bahagia dividen yg dibagikan tidak terlalu tinggi.

Paling tidak ada 3 alasan mengapa investor lebih menentukan capital gain daripada dividen, atau menyukai dividen yg tidak terlalu tinggi.
  • Pertumbuhan keuntungan perusahaan dinilai bisa menaikkan harga saham dan keuntungan modal dengan tarif pajak yg rendah akan bisa mengganti dividen yg tarif pajaknya lebih tinggi.
  • Menunda pembayaran pajak. Pajak terhadap keuntungan yg diperoleh tidak dibayarkan hingga saham tersebut terjual. Apabila dihubungankan dengan nilai waktu dari uang, uang pajak yg dibayarkan dimasa depan mempunyai nilai yg lebih kecil dibandingkan dengan pajak yg dibayarkan pada ketika ini.
  • Apabila ada saham yg dimiliki oleh seorang investor hingga investor tersebut meninggal dunia. Maka tidak ada sama sekali pajak yg harus dibayar dari keuntungan yg diterima. Ahli waris saham tersebut terhindar dari kewajiban membayar pajak.
Melihat keuntungan-keuntungan yg dikaitkan dengan pajak tersebut, pemegang saham lebih menyukai administrasi perusahaan menahan keuntungan dan memakai kembali untuk memenuhi kebutuhan dana perusahaan dari pada dibagikan dalam bentuk dividen.

Namun apabila dividen dikenai tarif pajak yg relatif rendah. Mungkin saja pemegang saham lebih menginginkan dividen yg tinggi.

4. Teori Hipotesis Sinyal Dividen [Dividend Signaling Hypothesis]

Teori hipotesis sinyal dividen dikemukakan pertama kali oleh Bhattacharya [1979].

Pengumuman pembayaran dividen oleh administrasi perusahaan ialah SINYAL bagi investor.

Sinyal wacana apa?

Manajemen seolah ingin memperlihatkan bahwa perusahaan bisa menghasilkan keuntungan yg diinginkan.

Manajemen ingin memperlihatkan bahwa mereka bisa untuk memenuhi pembayaran dividen kepada pemegang saham.

Manajemen seolah memperlihatkan sinyal bahwa kondisi keuangan perusahaan sangat kuat sehingga bisa membagikan dividen.

Perusahaan yg tidak mempunyai kondisi kekuangan yg sehat tentu tidak akan sanggup memperlihatkan dividen kepada pemegang saham.

Informasi wacana kondisi keuangan yg sehat mengambarkan bahwa perusahaan mempunyai prospek yg sangat cerah dimasa yg akan datang.

Menurut teori ini, dividen ialah salah satu cara mengurangi asimetri informasi atau ketidak-seimbangan informasi antara administrasi dan pemegang saham.

Manajemen tentu lebih mengetahui detail kondisi perusahaan dan prospeknya dibandingkan pemegang saham.

Maka dividen kemudian menjadi alat ukur bagi investor untuk menilai kinerja keuangan dan prospeknya dimasa mendatang

Secara tidak langsung. Teori ini memperlihatkan bahwa investor lebih menyukai dividen daripada mendapatkan capital gain.

Maka pada teori ini, pembayaran dividen akan meningkatkan nilai perusahaan. Menaikkan harga saham perusahaan.

Semakin tinggi pembayaran dividen, semakin tinggi nilai saham, respon pasar akan semakin bagus.

Begitu juga sebaliknya, apabila perusahaan menurunkan dividen yg dibagikan dibawah kenaikan yg normal ibarat biasanya, maka respon pasar akan negatif.

Investor seolah membaca sinyal bahwa perusahaan menghadapi masa-masa yg sulit dimasa yg akan datang.

# Pendapat Lain Tentang Teori Hipotesis Sinyal Dividen

Modigliani and Miller [MM] mewaspadai teori ini bahwa perubahan. harga saham sesudah adanya pembayaran dividen ialah reaksi investor yg lebih menyukai dividen dibanding keuntungan ditahan.

Menurutnya investor hanya melihat adanya kandungan infomasi bahwa administrasi perusahaan bisa mengelola aset-aset perusahaan yg ada hingga berhasil memperoleh laba.

Investor tidak melihat besar kecil dividen yg dibayarkan. Melainkan melihat informasi yg bisa menimbulkan harga saham naik.

Sebelum menyimpulkan, ada beberapa fakta wacana pembayaran dividen.
  1. Ada kenaikan harga saham. 
  2. Ada informasi yg diberikan
Apakah kenaikan harga saham disebabkan informasi ? ataukah disebabkan oleh preferensi investor terhadap adanya dividen yg dibagikan ?

Sejauh ini masih belum ada penelitian lebih lanjut dengan bukti empiris yg membuktikannya.

5. Teori Efek Pelanggan [Clientele Effect Theory]

Pelanggan disini maksudnya ialah pemegang saham. Dalam sebuah perusahaan yg sudah go public, sahamnya diperjualbelikan secara umum.

Semua orang bisa membelinya. saham perusahaan akan dimiliki oleh banyak orang atau kelompok. 

Teori imbas pelanggan atau clientele effect theory menjelaskan bahwa terdapat clientele atau kelompok pemegang saham yg mempunyai preferensi pandangan, kepentingan, dan tujuan yg berbeda dalam menyikapi kebijakan dividen perusahaan.

Sebuah perusahaan dimiliki oleh banyak sekali macam tipe investor.

Ada investor yg menginginkan dividen.

Ada pula yg tidak menginginkan dividen.

Dua tipe yg bertolak belakang yg berada dalam satu perusahaan.

Ada kelompok pemilik saham yg sedang membutuhkan dana pada ketika itu. Umumnya mereka akan mengharapkan ada pembagian dividen dengan rasio yg tinggi.

Ada juga kelompok sebaliknya yg pada ketika tersebut tidak begitu memerlukan dana. Umumnya kelompok pemegang saham ini lebih menyukai perusahaan untuk tidak membagikan dividen. Pemegang saham ingin perusahaan menahan keuntungan higienis perusahaan untuk ekspansi usaha.

Ada kelompok pemegang saham yg menginginkan capital gain lantaran pertimbangan perpajakan. Ada pula kelompok yg mengabaikan aspek pajak dan menginginkan pembagian dividen.

Dengan adanya kelompok-kelompok ini, kebijakan dividen yg diambil akan menguntungkan pemegang saham kelompok tertentu, dan tidak menggembirakan bagi pemegang saham lainnya.

Adanya kondisi ibarat ini bisa jadi mendorong perusahaan untuk menarik investor-investor yg sejalan dengan kebijakan dividen perusahaan.

Perusahaan yg mempunyai kebijakan membagikan dividen yg tinggi cenderung berusaha menarik investor yg juga suka dengan pembagian dividen.

Begitu juga sebaliknya, Perusahaan yg tidak membagikan dividen cenderung menarik investor yg tidak mengharapkan pembagian dividen.

Melihat kondisi pasar yg memungkinkan pemegang saham bisa dengan gampang berpindah perusahaan.

Perusahaan bisa mengganti kebijakan dividen sesuai yg diinginkan dan membiarkan para pemegang saham yg tidak menyukai keputusan tersebut menjual kepemilikan sahamnya ke investor yg lain yg menyukai kebijakan dividennya.

Namun tentu saja pemegang saham tidak aka melepas sahamnya begitu saja.

Ada beberapa hal yg akan mereka perhitungkan ibarat adanya biaya-biaya yg harus dibayarkan.

Seperti biaya pialang dan beban pajak misalnya.

Dan bahkan ada kemungkinan kesulitan dalam mencari investor yg menyukai kebijakan dividen perusahaan yg baru.

          Baca Juga : Dasar Dasar Keputusan Investasi

Salah satu rujukan :
Triawan D. [2012] Penggalian Potensi Pph atas Deviden sbg Upaya Meningatkan Penerimaan Pajak di KPP Madya Semarang, Skripsi S1. Program Sarjana Fsayaltas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro.