Saturday, August 3, 2019

Pendapatan Diterima Dimuka | Prepaid Income

Pengertian Pendapatan Diterima di Muka

Pendapatan diterima dimuka atau prepaid income yakni pendapatan dari suatu barang ataupun jasa yg masih belum diterima.

Kapan sebuah pendapatan harus disayai sbg pendapatan di terima dimuka ?

Kapan pendapatan disayai sbg pendapatan jasa atau penjualan ?

Apabila terjadi ketidaksesuaian pengsayaan suatu pendapatan, apa yg seharusnya dilsayakan ?

Ok, mari kita bahas :)

 Pendapatan diterima dimuka atau prepaid income yakni pendapatan dari suatu barang ataupu Pendapatan Diterima Dimuka | Prepaid Income

Menilik dari pengertian diawal tadi, pendapatan diterima dimuka kelihatannya sangat simpel, sederhana serta gampang kan ?

Namun kenyataannya pada masa ketika ini, sektor sektor bisnis perjuangan makin bervariasi, jenis jasa atau barang, sistem dalam pembayaran, maupun alat pembayaran yg makin bermacam macam memaksa penerapan pencatatan sayantansi jadi semakin komplek juga rumit.

Tidak sesederhana pengertian itu tadi.

Dibutuhkan "mix" dan "match".

Tetapi hanya jikalau konsep sayantansi dasar telah dipahami secara benar, diputar putar, dibolak balik bagaimanapun juga, benang merah-nya tidak akan berubah, alias tetap sama

Pengsayaan Pendapatan Diterima Dimuka

Coba anda perhatikan sebuah pola berikut:

25 February 2015 UD Kras mendapatkan order 1.000 pcs pasang sepatu yg berharga @ Rp 50.000 per pasang sepatu.

Sesuai rencana, pengiriman order tersebut dilsayakan secara bertahap, jadwalnya ibarat dibawah ini:

Tanggal  Jenis Kuantitas Harga  Jumlah
Pengiriman Barang (pasang) (Rp) (Rp)
02-Mar-15 Sepatu 300 50.000 15.000.000
15-Mar-15 Sepatu 300 50.000 15.000.000
31-Mar-15 Sepatu 400 50.000 20.000.000
Total 50.000.000


Dari order diatas, pada tanggal yg sama, UD Kras mendapatkan uang sebesar Rp 30.000.000 untuk Dp-nya.

Dan sisa pembayarannya akan diterima ketika tiap kali barang telah diserahkan ke pemesan.

Dari transaksi tersebut, tanggal 25 February 2015 UD Kras melsayakan penjurnalan ibarat berikut :

Debit | Kas 30.000.000
Debit | Piutang 20.000.000
Kredit | Penjualan 50.000.000 (50.000 x 1.000)


Pertanyaan: Apakah jurnal tersebut apakah telah sesuai ?

Jawabannya kita tunda dulu. Sementara kita lanjut ke pembahasan selanjutnya.

Pengsayaan Penjualan atau Pendapatan Jasa

Suatu pendapatan jasa ataupun penjualan disayai ketika barang ataupun jasa telah diserahkan, paling lambat ketika kas sudah diterima.

Apabila barang atau jasa telah diserahkan ke kostumer, namun pembayaran atau kas masih belum diterima, maka penjualan dicatat dengan cara mendebit sayan piutang.

Namun apabila kas telah diterima, penjualan atau pendapatan jasa tentunya dicatat dengan cara mendebet sayan kas. 

Didalam pola perkara diatas tadi, bukankah pembayaran dengan kas telah diterima ?

Itu artinya penjualan sudah sangat sanggup disayai kan ?

Yup betul, kas telah diterima namun barang (dalam pola ini sepatu) yg diorder belum diserahkan ke pemesan sehingga penjualan masih belum sanggup disayai.

Lho, kenapa jikalau barang atau jasa masih belum diserahkan, penjualan atau pendapatan jasa tidak disayai dulu?

Ingat, didalam dunia sayantansi, prinsip kesesuaian masih berlsaya, sanggup disandingkan ( the matching principle ).

Yang berarti setiap pengorbanan ekonomi (beban/biaya/pengeluaran) yg disayai harus disandingkan dengan gain atau manfaat yg ditimbulkannya pada periode waktu yg sama.

Sederhananya, tiap beban yg muncul hendaknya sanggup disandingkan dengan penjualan atau pendapatan yg diperoleh.

Pun sebaliknya untuk setiap pendapatan mestinya sanggup disandingkan dengan beban (expenses) yg muncul.

Dalam perkara UD Kras tersebut diatas, UD Kras telah mengsayai adanya pendapatan padahal sepatu (barang) masih belum diserahkan pada kliennya yg memesan.

UD Kras masih belum melsayakan produksi, kan gres saja orderan sepatu itu diterima ?

Praktis, UD Kras belum ada beban atau biaya yg muncul jawaban orderan barang pesanan sepatu tersebut.

Dengan model pencatatan UD Kras diatas, apa saja ekse yg muncul jawaban ketidaksesuaian pencatatan tersebut?

Karena ketika tanggal 25 February UD Kras mengsayai penjualan senilai Rp 30.000.000 padahal beban atau biaya belum ada yg keluarkan

Maka dalam laporan laba-rugi periode 1-29 februari 2015, UD Kras akan terlihat adanya Laba, setidak-nya senilai Rp 30.000.000

Sedangkan pada periode selanjutnya, 1-30 Maret 2015 UD Kras akan mencatat biaya atau beban secara terus menerus untuk merealisasikan produksi orderan yg pembayaran-nya telah dibukukan dalam laporan keuntungan rugi periode sebelumnya

Sehingga ketika penutupan buku 31 Maret 2015 UD Kras akan mengalami/membukukan kerugian (Lost) yg besarnya setidaknya sama dengna biaya dan beban yg muncul selama bulan tersebut.

Apabila ditampilkan dalam bentuk grafik, maka animo performa yg dihasikan akan terlihat tidak wajar.

Akan terjadi fluktuasi yg sanggup dibilang drastis dari bulan february ke periode bulan maret 2015.

Lalu harusnya kapan dan juga bagaimana melsayakan suatu pengsayaan yg lebih sesuai biar animo performa laporan laba-rugi terlihat masuk akal ?

Tips-nya:
Tiap suatu transaksi pendapatan yg masih belum mengakibatkan biaya/beban dicatat pada sayan atau rekening yg ada pada Neraca

Didalam pola perkara UD Kras diatas lebih baik dicatat (lihat jadwal pengiriman barang dan pembayaran diatas):

Saat 25 February 2015 | pertama kali memperoleh pembayaran dijurnal:

Debit | Kas 30.000.000
Kredit | Pendapatan Diterima Dimuka 30.000.000

Saat Tanggal 02 Maret 2015 | Pengiriman sepatu pertama dijurnal/dicatat:

Debit | Harga Pokok Penjualan Rp xxxx
Kredit | Persediaan Rp xxxx

Debit | Pendapatan Diterima Dimuka 15.000.000
Kredit | Penjualan 15.000.000


Notes:

Penjualan disayai ketika barang telah dikirim, dan penjualan yg telah terjadi sudah sanggup disandingkan dengan biaya dan beban yg muncul pada periode yg sama, yaitu HPP (Harga Pokok Penjualan).

Coba perhatikan sayan pendapatan diterima dimuka. dengan penjurnalan tanggal 02 maret 2015, maka saldo pendapatan diterima dimuka hanya tinggal senilai Rp 15.000.000 saja.


Pencatatan ketika pengiriman pesanan sepatu ke-2. 15 Maret 2015:

Debit | Harga Pokok Penjualan Rp.xxxx
Kredit | Persediaan Rp.xxxx

Debit | Pendapatan Diterima Dimuka 15.000.000
Kredit | Penjualan 15.000.000


Notes:

Penjualan dijurnal-dicatat senilai 15.000.000 dengan men-debit sayan pendapatan diterima dimuka

Makara total penjualan yakni 30.000.000 dan saldo sayan pendaptan diterima dimuka akan menjadi NOL.

Pencatatan 31 Maret 2015 | pengiriman terakhir, belum terima pembayan:

Debit | Harga Pokok Penjualan Rp.xxxx
Kredit | Persediaan Rp.xxxx

Debit | Piutang 20.000.000
Kredit | Penjualan 20.000.000


Pencatatan 01 April 2015 | pembayaran telah diterima:

Debit | Kas 20.000.000
Kredit | Piutang 20.000.000

Notes:

Ketika pengiriman yg terakhir atau yg ke-3, barang telah diserahkan dan penjualan sanggup di match (dilawankan) dengan HPP (harga pokok penjualan)

Sehingga masuk akal bila tersayai sbg penjualan.

Pun bila kas juga belum diterima, kan sanggup men-debit sayan Piutang.

Kesimpulan Pendapatan Diterima Dimuka

Apabila diperhatikan penjurnalan diatas, sanggup kita lihat pada tiap pengsayaan sebuah penjualan mesti bersandingan dengan pengsayaan HPP (harga pokok penjualan)

Ini yg disebut cost factor yg dilegalisasi dengan perpindahan fisik barang yg terefleksikan pada sayan persediaan yg saldonya makin berkurang (ada disisi kredit).

Inilah esensi dari Matching Principle dalam dunia sayantansi.

Apakah ketidaksesuaian pencatatan yg telah dilsayakan oleh UD Kras pada awal transaksi perlu untuk dibuatkan sebuah adjustment entry ?

Jawaban: Tergantung 

Tergantung apabila ketika pengiriman sepatu (barang) yg pertama dan ke-2 UD Kras hanya mengsayai HPP (Harga Pokok Penjualan) dengan meng-kredit sayan Persediaan saja dan tidak mencatat penjualan lagi

Maka tidak mutlak dibutuhkan sebuah adjustment entry.

Lho, Kenapa ?

UD Kras hanya terlalu dini (awal) mengsayai sebuah penjualan yg dalam sayantansi hal ini diistilahkan "Early Revenue Recognition" yg masih dikelompokkan kedalam 'Miss Statement', masih belum digolongkan " Material Issue ".

Pun hanya terjadi pada periode tahun buku sayantansi yg sama, dimana pendapatan yg disayai pada bulan februari (revenue overstatement) akan diimbangi oleh beban pada bulan maret (cost overstatement).

Hanya saja performa trendnya terlihat tidak wajar, lain dongeng apabila perkara yg terjadi yakni 'Premature revenue recognition', yaitu sebuah pengsayaan pendapatan atas ssuatu "potensi pendapatan" atau hanya berupa komitment

Maka hal tersebut termasuk golongan 'Material Issue'.

Tetapi, tetap saja, pencatatan ibarat UD Kras lsayakan pada awal awal tadi sebaiknya tidak dilsayakan

Lebih baik dihindari sebab apabila terjadi pada final tahun buku akan menjadi sangat merepotkan.